God,,,,saat ini aku bisa merasakan mengidolakan seseorang itu bagaimana, beribu-ribu perasaan yang aku rasa. “Mengidolakan sesorang”, hmmmm....bukan berarti aku Jatuh Cinta sama Dya. Di blog ini aku ingin bercerita tetang mengapa aku sangat mengidolakannya.
Untuk masalah seperti ini aku jarang lho bisa berbagi cerita kepada orang lain, malah benar-benar gak pernah sama sekali. Termasuk ke Mbak ku juga, aku juga gak pernah mencaritakan hal ini. Karena aku termasuk orang yang sulit untuk berbagi cerita. Mungkin karena tidak ada orang yang bisa aku ajak berbagi untuk masalah seperti ini. Lagian aku juga malu banget kalau ada orang yang tau,,,,, langsung masuk kedalam cerita saja ya. Tiga,,,,, Dua,,,,,, Satu,,,,,,,,MULAiiiiii,,,,,,,!!!!!!!!!!
Awalnya, Dia tiba-tiba datang untuk memperkenalkan dirinya dalam kerumunan dimana aku menjalani rutinitas tiap hari. Dia menjelaskan tentang sesuatu. Sampai sekarang aku sangat mengingatnya cara Dia untuk berkenalan. Aku bener-bener berfikir, maksudnya apa sih orang ini bikin ribet aja. Menyepelahkan benget ya aku.
Hari demi hari dia terus dan terus mengenalkan ke orang-orang. Selain itu, Dya juga ditunjuk sebagai pengatur-pengatur gitu deh. Dari situ aku membayangkan sosoknya, yaitu orang ini pinter baget, keren lah bagiku. Dalam pikiranku Dia sudah berumur, karena cara Dia untuk menyelesaikan masalah sangatlah dewasa [penilaianku sih gitu].
Setelah beberapa lama ada tiket untuk berkunjung ke suatu tempat. Tapi sayang aku tak mendapatkan tiket tersebut, karena jumlahnya yang sangat terbatas. Hanya ada 1 teman ku yang bisa berangkat, yang kupanggil dia dengan nama “Si A”.
Si A berangkat menggunakan tiket tersebut, termasuk Dia. Meskipun dengan pemberangkatan yang berbeda. Sehabis pulang dari kunjungan Si A bercerita semuanya yang dia alami disana, dari mulai perjalanan, situasi disana, hasil yang diperoleh serta orang-orang yang ikut serta didalamnya. Tiba-tiba aku melontarkan sebuah pertanyaan kepda Si A, “bagaimana dengan Dia?”. Setalah mengucap sempat berfikir kenapa yang aku tanyakan malah tentang Dya, padahal tidak ada yang membuat alasan harus dipertanyakan. Setelah itu Si A menjawab dengan singkat “Dia kurus”. “Terus keliatannya sudah menikah belum ya?”,,,,hmm, makin gak penting pula pertanyaanku. Si A menjawab Dia sudah berkeluarga kok. “YaChhh,,,,L” itulah yang aku rasakan.
Beberapa kali aku telah dibantunya untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Benar-benar aku malah beranggapan Dia sosok orang yang pinter dan sangat dewasa, secara usianya juga gedhe.
Suatu hari aku dapat tiket, dan........aku harus berangkat. Aku seneng banget, karena aku akan bertemu dengan teman-temanku yang lain, sperti “Si B”, “Si C”, “Si D” dan juga “Si E”. Tapi dalam perjalanan orang yang pertama aku ingin temui kenapa Dia. Aduch,,,,deg-deg-an baget coba. Selama ini kan aku cuma mengenalnya dalam dunia maya. Jadi kita semua sama-sama baru ketemu. Nah, sampai ditempat tujuan Bapak “H” mengajak untuk keluar. Sebelumnya Bapak “H” memerkenalkan seseoarang kepadaku. Seseorang itu berkata “Dia”, Ya Allah, apa yang aku rasakan, tiba-tiba badanku lemes baget. Aku berkata, “ini mimpi, ini pasti mimpi, Linah sadar dari mimpimu“. Aku menyubit badanku sendiri, ya Allah ternyata sakit. Aku benar-benar tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan. Diluar dugaan, ternyata aku bisa melihat sosok typeku. Dan.....tepat berada di depan mata. Gimana tidak lemes baget kalau kayak gitu. Waktu itu aku mempunyai sebuah pertanyaan, “apakah benar sih ini Dia?.” Tapi Bapak “H”, “Si B”, “Si C” ataupun yang lainnnya manggil dengan nama “Dia” terus, yang artinya namanya adalah “Dia”. Aku tidak bisa berkata-kata, mati gaya pokoknya. Aku gak nyangka sosokmu seperti ini, sosok yang selama ini aku idamankan. Berkaca mata, keliatan orang cupu tapi masih terkesan orang dewasa yang keren.
Waktu malamnya aku gak bisa tidur, masih berfikir-fikir tentang Dia. Aduch,,,pokoknya aku seneng banget. Hingga besok paginya aku bertemu Dia lagi, serta bangku ku tepat berada di depannya. Ampunnnnn,,,,,benar-benar bikin aku nervous. Setiap gerak-geriknya selalu aku perhatikan, dari tutur katanya sampai bahasa tubuhnya sekalipun. Karena aku sangat mengaguminya.
Tapi tak terasa, waktu sudah larut saatnya aku harus balik. Sedih yang mendalam yang aku rasakan. Ketika berjabat tangan dengannya, hatiku berkata dengan keras “kapan aku bisa bertemu denganmu lagi”. Dalam perjalanan pun aku berfikir, kapan aku akan kesini lagi? 1 minggu, 1 bulan atau sampai menunggu hingga 1 tahun. Ya Allah,,,aku sangat menginginkan untuk bisa balik kesini.
Sesampainya dirumah, tiap kali aku melakukan sesuatu selalu teringat dengan Nya. Itu berlangsung sekitar 2 minggu. Kerjaanku tidak fokus, kuliah tidak bisa konsen dan sering melamun.
Hmmmmm,,,,,,aku seperti orang bodoh. Seneng banget kalau diajak ngobrol dengannya. Waktu yang tidak mungkin aku sia-siakan. Alhamdulillah, saat ini aku jadi sering ngobrol dengannya, meski dengan bahasan yang garing. ^_^
Ya Allah, setelah menulis ini perasaan ku sangat lega. Seperti tidak ada beban meski hutang ku sangat banyak. Halagh,,,,,,Linah emang bisa aja. Aku berkata sungguhan.
.: Harapan :.